Blue foods: Potensi dan pengelolaan berkelanjutan sistem pangan biru berbasis perairan lokal
Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki posisi strategis dalam pengembangan Blue Food secara optimal dan berkelanjutan. Dengan potensi perikanan tangkap, akuakultur, dan biodiversitas akuatik yang sangat besar, Indonesia dapat memainkan peran utama dalam produksi, inovasi teknologi, serta pengembangan rantai nilai pangan akuatik. Dalam konteks ini, Blue Food tidak hanya relevan sebagai konsep ilmiah, tetapi juga menjadi peluang pengabdian kepada masyarakat, ekonomi strategis dan berkelanjutan bagi industri, UMKM, dan investor. Peningkatan permintaan global terhadap pangan laut berkualitas tinggi, produk olahan inovatif, produk olahan limbah, produk bioteknologi, bahan baku industri nutraseutikal membuka ruang besar bagi kolaborasi riset akademisi, lembaga nasional, industri, serta kemitraan usaha.
Seminar Nasional Tahunan XXIII Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan tahun 2026 menawarkan kolaborasi dengan lembaga pemerintahan, asosiasi bidang perikanan dan ilmu kelautan, serta pelaku usaha di seluruh Indonesia. Melalui seminar ini, diharapkan terbentuk forum strategis bagi akademisi, pemerintah, industri, investor, lembaga keuangan, dan komunitas perikanan dan pesisir untuk membangun sistem pangan akuatik yang berdaya saing, berbasis sains, dan berkelanjutan. Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals: Tanpa Kemiskinan (SDG 1); Tanpa Kelaparan (SDG 2); Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDG 3); Kesetaraan Gender (SDG 5); Energi Bersih dan Terjangkau (SDG 7); Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDG 8); Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (SDG 9); Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab (SDG 12); Penanganan Perubahan Iklim (SDG 13); Ekosistem Lautan (SDG 14); dan Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDG 17).